Sering kali kita merasa kita bukanlah orang yang beruntung. Mudah sekali rasanya untuk membuang sesendok nasi yang tersisa dari apa yang kita makan. Mudah juga untuk mengatakan, "Makanan macam apa ini? sampah! tidak enak sama sekali." Merasa apa yang kita makan adalah sesuatu yang patut untuk dikomentari. Selembar uang seribu, dua ribu, lima ribu, sepuluh ribu, atau bahkan seratus ribu begitu mudah terhabiskan. Cobalah melihat pada diri kita sendiri seberapa cepat kita menghabiskan uang yang kita miliki. Bagi yang sudah memiliki penghasilan sendiri mungkin bisa lebih dimaklumi, namun bagi yang masih terus saja berdiri di atas orang tua, layaknya harus melihat dengan lebih baik.
Ketika seumuran seperti penulis yang hampir menginjak usia 20, rasaya sering kali terasa gejolak. Materi menjadi sesuatu yang kurang dihargai dan sangat mudah dihabiskan. 10ribu untuk sekali makan selepas pulang dari kampus dan 3 kali makan sehari dengan jumlah yang sama. 30ribu untuk sehari makan 3 kali. Apakah manusiawi?
Bagi beberapa orang mungkin jumlah itu tidaklah manusiawi karena sangat sedikit, namun bagi beberapa orang jumlah sekian adalah julah yang ideal. Dan sering kali kita tidak merasakan ketika lembar demi lembar uang kita habiskan.
gambar diunduh dari : http://iseng-posting.blogspot.com/2012/01/kisah-pak-tua-penjual-amplop.html?showComment=1394811920923#c3876942179790356075 terima kasih untuk sang penulis
Coba kita tengok sejenak gambar di atas. Seorang renta yang menjual sesuatu yang sebenarnya sudah tidak terlalu lagi dibutuhkan oleh orang lain. Darinya kita bisa banyak belajar. Terkadang dengan kita menghabiskan apa yang kita miliki kita tidak ingat dengan apa yang ada di luar sana. Bapak tua ini mengajarkan kita tentang perjuangan, prinsip, keikhlasan, kerja keras, dan banyak lagi.
Ketika kita menghabiskan apa yang kita dapatkan dari orang tua kita begitu mudahnya, katakanlah 10ribu. Bapak ini berusaha keras sekali untuk mendapatkan apa yang bisa dengan mudah kita dapatkan dari orang tua kita dengan pendapatan serupa dengan apa yang orang tua kita berikan.
Betapa tangguh dan mulianya bapak ini hingga meminta-minta bukanlah apa yang dia pilih. Mungkin dengan meminta-minta apa yang didapatkan bisa jauh lebih banyak daripada menjual beberapa lembar amplop. Namun bapak ini enggan untuk menggantungkan hidupnya pada rasa iba orang lain. Meskipun apa yang didapatkannya sangatlah sedikit, namun halal, dan mulia tentunya dibandingkan dengan mengandalkan rasa iba orang lain.
Hanya satu pelajaran kecil yang saya tuliskan, namun berkacalah pada foto di atas dan niscaya akan ada berjuta pelajaran berharga yang bisa didapatkan.
Dan sekarang, bercerminlah...
Lihat diri anda...
Apakah anda orang yang dengan mudah menghabiskan semua yang ada...
ataukan orang yang senantiasa bersyukur dengan apa yang anda miliki...
"Bersyukurlah pada apa yang anda miliki hari ini, karena niscaya setiap hela nafas yang anda miliki adalah sebuah karunia... Berhenti mengeluh karena di luar sana banyak yang tidak bisa menikmati karunia mereka ketika mereka bahkan tak lagi dapat menikmati indahnya karunia nafas." (Daris)
Ketika seumuran seperti penulis yang hampir menginjak usia 20, rasaya sering kali terasa gejolak. Materi menjadi sesuatu yang kurang dihargai dan sangat mudah dihabiskan. 10ribu untuk sekali makan selepas pulang dari kampus dan 3 kali makan sehari dengan jumlah yang sama. 30ribu untuk sehari makan 3 kali. Apakah manusiawi?
Bagi beberapa orang mungkin jumlah itu tidaklah manusiawi karena sangat sedikit, namun bagi beberapa orang jumlah sekian adalah julah yang ideal. Dan sering kali kita tidak merasakan ketika lembar demi lembar uang kita habiskan.
gambar diunduh dari : http://iseng-posting.blogspot.com/2012/01/kisah-pak-tua-penjual-amplop.html?showComment=1394811920923#c3876942179790356075 terima kasih untuk sang penulis
Coba kita tengok sejenak gambar di atas. Seorang renta yang menjual sesuatu yang sebenarnya sudah tidak terlalu lagi dibutuhkan oleh orang lain. Darinya kita bisa banyak belajar. Terkadang dengan kita menghabiskan apa yang kita miliki kita tidak ingat dengan apa yang ada di luar sana. Bapak tua ini mengajarkan kita tentang perjuangan, prinsip, keikhlasan, kerja keras, dan banyak lagi.
Ketika kita menghabiskan apa yang kita dapatkan dari orang tua kita begitu mudahnya, katakanlah 10ribu. Bapak ini berusaha keras sekali untuk mendapatkan apa yang bisa dengan mudah kita dapatkan dari orang tua kita dengan pendapatan serupa dengan apa yang orang tua kita berikan.
Betapa tangguh dan mulianya bapak ini hingga meminta-minta bukanlah apa yang dia pilih. Mungkin dengan meminta-minta apa yang didapatkan bisa jauh lebih banyak daripada menjual beberapa lembar amplop. Namun bapak ini enggan untuk menggantungkan hidupnya pada rasa iba orang lain. Meskipun apa yang didapatkannya sangatlah sedikit, namun halal, dan mulia tentunya dibandingkan dengan mengandalkan rasa iba orang lain.
Hanya satu pelajaran kecil yang saya tuliskan, namun berkacalah pada foto di atas dan niscaya akan ada berjuta pelajaran berharga yang bisa didapatkan.
Dan sekarang, bercerminlah...
Lihat diri anda...
Apakah anda orang yang dengan mudah menghabiskan semua yang ada...
ataukan orang yang senantiasa bersyukur dengan apa yang anda miliki...
"Bersyukurlah pada apa yang anda miliki hari ini, karena niscaya setiap hela nafas yang anda miliki adalah sebuah karunia... Berhenti mengeluh karena di luar sana banyak yang tidak bisa menikmati karunia mereka ketika mereka bahkan tak lagi dapat menikmati indahnya karunia nafas." (Daris)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar