Senin, 17 Maret 2014

Sajak untuk Orang Bodoh

Hai kau...
Ya Kau...
Iya...
Kau yang di sana...

Kau tau?
Kau bodoh...
Kau tolol...
Iya... Kau bodoh dan tolol...

Kenapa?
Tak terima?
Dasar Bodoh!
Dasar Tolol!
Masih tak terima?
Bodoh Kau! Tolol!

Bagunnnn...
Jangan tidur bodoh!
Bangun!
Berhentilah bermimpi!

Kenapa?
Tak suka?
Berhentilah bermimpi!
Bangunlah!
Buka matamu!

Pandanglah cakrawala...
Kau tau kenapa kau bodoh?
Selama ini kau hanya terjebak dalam mimpimu kawan...
Mimpimu besar...
Harapanmu mulia...
Lihatlah sekelilingmu...
Matahari, angin pagi, titik embun, mawar yang basah, kicau burung gereja...
Semuanya berpihak kepadamu
Selama ini kau buta
Lihatlah...
Semuanya ada untuk merealisasikan mimpimu...
Kau hanya perlu bangun, menghela nafas, dan memulai satu langkah kecil untuk mimpi besarmu....

"Seringkali manusia terjebak dalam mimpi, mereka terlalu malu untuk mengatakannya, mereka terlalu takut untuk mewujudkannya... ketahuilah semua yang ada di mimpi tak mustahil untuk menjadi realitas... hanya perlu mengambil satu langkah kecil, berusaha, dan biarkan Tuhan menentukan hasilnya" (Daris, 01.14, 18 Maret)

Jumat, 14 Maret 2014

Dialah Salah Satu Alasan Aku Bersyukur Setiap Paginya

Sekarang kami menjalin hubungan. Apa yang kami jalani selama hampir setahun ini baik-baik saja. Segalanya terasa menyenangkan. Bergandengan tangan, berjalan menyusuri jalan, tertawa bersama, melihat bulan paruh bersama, segalanya terasa begitu menyenangkan.

Terkadang ketika risaunya datang, celotehnya kian intensif. Pada saat itu juga aku harus memberikannya telingaku dan mendengarnya bercerita. Namun pada saat itu pula aku merasa aku benar-benar berguna.

Dia adalah gadis yang manis.... baik.... penyayang....
Dalam setiap tuturnya aku bisa merasakan ketulusan....
Dalam setiap perkataannya aku bisa merasakan kepolosan hati seorang gadis kota....
Dalam setiap keluhannya aku bisa merasakan betapa dalam apa yang dia rasakan....
Dalam setiap celetuknya aku bisa merasakan sebutir alasan kuat untuk tertawa....
Dalam setiap nada yang dia lantunkan aku bisa merasakan bibirku tertarik untuk menyeringai bahagia....

Dia adalah salah satu alasan kuat untukku bersyukur....
Dia membuatku mensyukuri,
Mata yang bisa melihat manis senyumnya....
Telinga yang bisa mendengar keluh kesahnya....
Hidung yang bisa mencium wanginya....
Lidah yang bisa merasakan apa yang dimasakkannya....
Tangan yang bisa menggenggam tangannya saat tersesat....
Nafas yang bisa membuatku tetap hidup dan mendampinginya saat kesepian....

Allah Tuhanku....
Lindungilah dia....
Lindungilah dia dari rasa sakit....
Lindungilah dia dari perihnya tergores paku....
Lindungilah dia dari mimpi buruk....

Jadikanlah selalu dia kekasih-MU....
Jadikanlah dia wanita yang membenarkanku saat khilaf....
Jadikanlah dia wanita yang mendorongku saat tertambat....
Jadikanlah dia wanita yang mengangkatku saat terjatuh....
Jadikanlah dia wanita yang menunjukkan jalan saat aku tersesat....

Percaya atau tidak, sekitar tiga tahun yang lalu ketika kita mengenyam sekolah di tempat yang berbeda dan berdinding jarak puluhan kilometer satu sama lain. Saat itu kita beradu dalam kompetisi tari. Dia dengan modern dancenya dan aku dengan tari tradisional Turkiku. Dia mendapatkan juara satu sementara aku berada di tempat kedua. Saat itu kami tidak mengenal satu sama lain. Setelah kita berdua dekat, sekitar setahun yang lalu, barulah kami menyadari kami pernah berada di event yang sama. Tampaknya dunia begitu kecil. Sekian tahun tak bertemu setelah memang tidak kenal satu sama lain, akhirnya kita bertemu dan bahkan menjalin hubungan. Kebetulan ataukah sudah tergaris....? Hanya Tuhan yang tahu....

"Segala sesuatu tak ada yang tahu, namun sudah tergariskan dengan sangat detail. Mati, hidup, cinta, rejeki, karir, persahabatan... Beberapa bisa kita usahakan dan beberapa tidak.... Tuhan-lah Yang Maha Kuasa... Nikmati apa yang kau dapatkan hari ini dan bersyukurlah kau masih memiliki nikmat karunia mencintai dan dicintai meskipun terkadang semuanya terlihat abstrak." (Daris)

Dialah yang hampir setahun ini bersamaku dan membuatku bersyukur akan kesempatan setiap fajar menyingsing yang masih bisa kulihat setiap paginya....


Kalian adalah Manusia yang Beruntung

Sering kali kita merasa kita bukanlah orang yang beruntung. Mudah sekali rasanya untuk membuang sesendok nasi yang tersisa dari apa yang kita makan. Mudah juga untuk mengatakan, "Makanan macam apa ini? sampah! tidak enak sama sekali." Merasa apa yang kita makan adalah sesuatu yang patut untuk dikomentari. Selembar uang seribu, dua ribu, lima ribu, sepuluh ribu, atau bahkan seratus ribu begitu mudah terhabiskan. Cobalah melihat pada diri kita sendiri seberapa cepat kita menghabiskan uang yang kita miliki. Bagi yang sudah memiliki penghasilan sendiri mungkin bisa lebih dimaklumi, namun bagi yang masih terus saja berdiri di atas orang tua, layaknya harus melihat dengan lebih baik.

Ketika seumuran seperti penulis yang hampir menginjak usia 20, rasaya sering kali terasa gejolak. Materi menjadi sesuatu yang kurang dihargai dan sangat mudah dihabiskan. 10ribu untuk sekali makan selepas pulang dari kampus dan 3 kali makan sehari dengan jumlah yang sama. 30ribu untuk sehari makan 3 kali. Apakah manusiawi?

Bagi beberapa orang mungkin jumlah itu tidaklah manusiawi karena sangat sedikit, namun bagi beberapa orang jumlah sekian adalah julah yang ideal. Dan sering kali kita tidak merasakan ketika lembar demi lembar uang kita habiskan.


gambar diunduh dari : http://iseng-posting.blogspot.com/2012/01/kisah-pak-tua-penjual-amplop.html?showComment=1394811920923#c3876942179790356075 terima kasih untuk sang penulis

Coba kita tengok sejenak gambar di atas. Seorang renta yang menjual sesuatu yang sebenarnya sudah tidak terlalu lagi dibutuhkan oleh orang lain. Darinya kita bisa banyak belajar. Terkadang dengan kita menghabiskan apa yang kita miliki kita tidak ingat dengan apa yang ada di luar sana. Bapak tua ini mengajarkan kita tentang perjuangan, prinsip, keikhlasan, kerja keras, dan banyak lagi.

Ketika kita menghabiskan apa yang kita dapatkan dari orang tua kita begitu mudahnya, katakanlah 10ribu. Bapak ini berusaha keras sekali untuk mendapatkan apa yang bisa dengan mudah kita dapatkan dari orang tua kita dengan pendapatan serupa dengan apa yang orang tua kita berikan.

Betapa tangguh dan mulianya bapak ini hingga meminta-minta bukanlah apa yang dia pilih. Mungkin dengan meminta-minta apa yang didapatkan bisa jauh lebih banyak daripada menjual beberapa lembar amplop. Namun bapak ini enggan untuk menggantungkan hidupnya pada rasa iba orang lain. Meskipun apa yang didapatkannya sangatlah sedikit, namun halal, dan mulia tentunya dibandingkan dengan mengandalkan rasa iba orang lain.

Hanya satu pelajaran kecil yang saya tuliskan, namun berkacalah pada foto di atas dan niscaya akan ada berjuta pelajaran berharga yang bisa didapatkan.

Dan sekarang, bercerminlah...
Lihat diri anda...
Apakah anda orang yang dengan mudah menghabiskan semua yang ada...
ataukan orang yang senantiasa bersyukur dengan apa yang anda miliki...

"Bersyukurlah pada apa yang anda miliki hari ini, karena niscaya setiap hela nafas yang anda miliki adalah sebuah karunia... Berhenti mengeluh karena di luar sana banyak yang tidak bisa menikmati karunia mereka ketika mereka bahkan tak lagi dapat menikmati indahnya karunia nafas." (Daris)