Minggu, 07 Oktober 2012

Jakarta hampir kehabisan lahan

Jakarta - Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) pernah melakukan riset soal ketersedian lahan untuk hunian di Jakarta. Hasil riset itu menyimpulkan pasokan tanah untuk kepentingan hunian akan habis pada 2013.
Deputi Perumahan Formal Kemenpera Pangihutan Marpaung mengatakan perhitungan itu sudah dilakukan sejak 9 tahun lalu. Pertumbuhan konsumsi untuk lahan dan menjamurnya bangunan-bangunan komersial secara langsung menjadi penyebab habisnya stok tanah untuk hunian di Jakarta.

"Jadi kalau Jakarta itu rumah susun harus, kita pernah menghitung tahun 2003 soal laju pertumbuhan kebutuhan tanah di Jakarta, hasilnya tahun 2013 lahan di Jakarta sudah penuh terisi," katanya kepada detikFinance, Selasa (6/3/2012)
http://finance.detik.com/read/2012/03/06/145843/1859108/1016/buruan-stok-tanah-untuk-rumah-di-jakarta-habis-di-2013

Ia mencontohkan beberapa tahun lalu, di Jakarta masih banyak lahan-lahan kumuh. Namun saat ini lahan-lahan itu nyaris sudah tak terlihat lagi, karena telah menjadi hunian mewah maupun pusat belanja. Selain itu, adanya kewajiban soal persentase lahan hijau yang harus dipenuhi pemerintah daerah menjadi salah satu penyebab berkurangnya lahan hunian di Jakarta.

"Maka di Jakarta mau tidak mau harus high rise (bangunan bertingkat) secara maksimal, misalnya 20 lantai, tetapi dibatasi koefisien luas bangunan (KLB) 3,5, kalau 6 nggak boleh," katanya.

Selain itu harga rumah termurah di Jakarta minimal Rp 250 juta per unit dengan lokasi di pinggiran Jakarta. Untuk kawasan-kawasan penopang Jakarta seperti kawasan antara Jakarta-Depok harga rumah termurah disana sudah mencapai Rp 150 juta per unit.

Review:
                Lahan di ibu kota sudah menunjukkan kata kritis, terbukti dari temuan riset oleh Kemenpera bahwa dalam tahun 2013 ketersediaan lahan untuk keperluan perumahan akan habis. Hal itu membuktikan betapa cepatnya pertumuhan populasi manusia di kota besar khususnya Jakarta. Pertumbuhan tersebut bukan hanya dikarenakan rasio natalitas yang lebih rendah daripada rasio mortalitas penduduk, namun yang menyumbang angka pertumbuhan populasi Jakarta terbesar adalah pendatang atau laju urbanisasi yang sangatlah besar, sengan anggapan masyarakat awam bahwa di kota besar seperti Jakarta lebih bisa menjanjikan ketersediaan lapangan kerja yang besar. Namun berbeda apabila kita tinjau dari Jakarta langsung, ternyata yang terjadi adalah sebaliknya. Di Jakarta ternyata banyak sekali pengangguran, sungguh berbeda apabila realitas yang sebenarnya terjadi dibandingkan dengan pengelihatan yang dihasilkan dari kaca mata orang pedesaan yang awam pada umumnya.
                Kekurangan lahan akan menimbulkan masalah baru bagi ibu kota. Mulai sekarang, adalah sebuah PR bagi pemerintah untuk menanggulangi hal tersebut. Apabila lahan untuk bermukim di Jakarta habis, maka mau ataupun tidak mau pemerintah harus menyediakan rusun atau apartemen yang layak bagi warga. Belum apabila kita menengok sejenak di permasalahan transportasi publik ibu kota. Ketersediaan busway dirasa kurang efektif untuk menanggulangi masalah kemacetan. Cengan semakin bertambahnya volume kendaraan, bukan tidak mungkin suatu saat nanti Jakarta akan mengalami keberhentian total kendaraan. Jumlah kendaraan sudah jauh melebihi panjang jalan yang ada di ibu kota, sehingga kemacetan bukanlah sesuatu yang harus dikagetkan.
                Dengan berkurangnya lahan di Jakarta juga akan mempengaruhi kesejahteraan warga. Bisa kita lihat saja sekarang, banyak sekali terdapat perumahan kumuh di Jakarta. Dan perumahan tersebut dibangun tanpa adanya tatanan yang benar. Kerancuan penataan kota akan berdampak sendiri terhadap keberlangsungan sirkulasi kehidupan Jakarta. Jalanan menjadi semakin macet dan padat merayap, permukiman kumuh akan terus berkembang, lahan kosong akan semakin terdegradasi, dan estetika kotapun bisa hilang.
                Sudah selayaknya kita sebagai calon planner mulai berpikir akan hal tersebut. Kita harus memperjuangkan kesejahteraan masyarakat, memperjuangkan permukiman yang layak dan kota yang indah dan nyaman. Oleh karena itu, kita harus belajar dengan tekun dan berusaha sekuat mungkin memikirkan keberlangsungan ibu kota tercinta. Jakarta harus bisa menyediakan permukiman layak, lingkungan bersih, taman -taman kota, lahan-lahan hijau,dan jalanan yang nyaman tanpa adanya kemacetan. Mari belajar dengan tekun dan wujudkan itu semua, sehingga bukan hanya sekedar menjadi angan dan mimpi semata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar